Minggu, 06 Januari 2008

ARTIKEL 4 MAHMUD JAUHARI ALI


Saling Menghargai, Mengapa Tidak?


Mahmud Jauhari Ali

Pencinta Bahasa dan Sastra

Radar Banjarmasin


Saya masih teringat dengan kata-kata guru saya di Sekolah Dasar dulu, “Kita harus saling menghargai satu sama lain!”, kalimat itu masih saja mengiang di telinga saya sampai saat ini, walaupun sudah sangat lama. Kita memang harus menghargai orang lain jika kita ingin dihargai pula oleh orang-orang di sekeliling kita. Jadi, kata-kata guru saya tadi adalah benar. Teringat dengan masa lalu saya itu membuat saya berpikir soal harga-menghargai antara sastrawan dan pemerintah di provinsi ini. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari sejumlah tulisan dari koran ini, saya menemukan adanya ketidakharmonisan antara sastrawan dengan pemerintah dalam hal harga-menghargai ini. Salah satu pihak pemerintah yang disebutkan dalam koran ini adalah Balai Bahasa Banjarmasin. Jujur, saya bukan salah seorang dari pihak instansi pemerintah yang satu ini. Akan tetapi, saya memiliki banyak teman di Balai Bahasa tersebut. Bahkan dapat dikatakan semua staf di Balai Bahasa Banjarmasin adalah teman saya. Walaupun demikian, bukan hanya pihak Balai Bahasa itu saja teman-teman saya, kita semua bangsa Indonesia adalah bersaudara. Benar?
Pada intinya saya ingin pihak sastrawan dan Balai Bahasa Banjarmasin saling menghargai satu sama lainnya. Setuju? Balai Bahasa Banjarmasin hanyalah sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Pusat Bahasa. Ada 22 UPT yang dimiliki Pusat Bahasa. Di Kalimantan ada empat, yakni Balai Bahasa Banjarmasin, Balai Bahasa Pontianak, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, dan Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Sebagai sebuah UPT, semua arah kebijakan Balai Bahasa Banjarmasin harus sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan oleh Pusat Bahasa yang berada di Jakarta. Tepatnya, di Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur. Maaf! Bukannya saya ingin mempromosikan Balai-Balai di ligkungan Pusat Bahasa, tetapi hanya ingin memberikan sedikit penjelasan seputar Balai Bahasa Banjarmasin.
Untuk menghubungkan antara masalah yang sedang ada dalam dunia sastra di provinsi ini dengan kebijakan Balai Bahasa Banjarmasin, kita perlu mengetahui seputar Balai Bahasa yang satu ini. Karena itulah, penjelasan sedikit di atas tadi saya rasa perlu. Sepengetahuan saya, dalam kebijakan-kebijakan yang ada di Balai-Balai Bahasa yang ada di pulau ini memang tidak ada program pendanaan untuk honorarium hasil sastra para sastrawan yang dimuat di media massa. Akan tetapi, perlu diingat bahwa selama ini Balai-Balai Bahasa telah memberikan honorarium kepada sejumlah sastrawan yang bekerja sama dengan pihak Balai Bahasa dengan prinsip saling menghargai. Misalnya, honorarium diberikan oleh Balai Bahasa Banjarmasin kepada sastrawan yang menjadi juri dalam lomba Baca Puisi yang sering diselenggarakan Balai Bahasa ini. Bisa juga diberikan kepada sastrawan yang bertindak sebagai pembengkel sastra dalam kegiatan Bengkel Sastra yang juga sering diselenggarakan pihak Balai Bahasa. Sebut saja sastrawan yang akrab dengan Balai Bahasa Banjarmasin adalah Arsyad Indradi dan Ali Syamsudin Arsyi.
Honorariumnya lumayan besar sebagai bentuk penghargaan terhadap sastrawan yang menghargai ajakan pihak Balai Bahasa menjadi juri atau pembengkel sastra tersebut. Menanggapi masalah honorarium untuk sastrawan yang hasil sastranya dimuat di media massa, saya rasa bukanlah kapasitas saya untuk menjawab pertanyaan apakah diberikan atau tidak. Akan tetapi, saya masih meyarankan perlu adanya diskusi langsung (tatap muka) antara pihak sastrawan yang menginginkan honorium tersebut dengan pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Diskusi itu menurut saya perlu karena tanpa itu masalah yang sedang ada di dunia sastra provinsi ini tidak akan teratasi. Diskusi merupakan usaha mencari solusi yang baik dalam mengatasi segala masalah, termasuk masalah yang sedang saya bahas ini. Saya yakin pihak Balai Bahasa Banjarmasin akan mau membuka diri terhadap masalah kesastraan di lingkup wilayah kerja mereka. Insya Allah diskusi itu akan membawa perubahan ke arah kebaikan bagi kita bersama. Amin!
Selain diskusi itu, ada beberapa hal lain yang ingin saya sampaikan berikut ini berkenaan dengan masalah honorarium selama diskusi tersebut belum dapat dilaksanakan. Pertama, sekadar saran, bukan menggurui siapa pun, menurut saya sementara diskusi itu belum dilaksanakan, pihak Balai Bahasa Banjarmasin dapat membuat sejumlah antologi puisi para penyair atau kumpulan cerpen para cepenis di Kalimantan Selatan pada tahun 2008, sebagai kerja tim. Para penyair dan cerpenis yang hasil puisi atau cerpennya dimuat di dalam kumpulan-kumpulan tersebut diberikan imbalan sebagai bentuk pengahargaan. Ingat, ini hanya saran! Kedua, saran saya lainnya adalah pihak Balai Bahasa Banjarmasin menyelenggarakan sayembara penulisan cerpen, puisi, atau pun naskah drama bagi masyarakat umum secara rutin setiap tahunnya. Dalam arti, siapa saja boleh ikut dalam sayembara tersebut termasuk para sastrawan di Kalimantan Selatan. Dengan demikian, sastrawan yang menang akan mendapatkan penghargaan yang pantas dari Balai Bahasa Banjarmasin. Ini juga hanya saran!
Dalam hal pertama dan kedua tadi menurut saya para sastrawan juga harus menghargai pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Menurut saya bentuk penghargaan para sastrawan kepada Balai Bahasa pada hal yang pertama adalah sastrawan harus mau menyerahkan sendiri puisi atau pun cerpen mereka masing-masing kepada pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Dengan demikian, pihak Balai Bahasa Banjarmasin tidak perlu mendatangi para sastrawan dari pintu ke pintu. Bentuk penghargaan dalam hal yang kedua adalah para sastrawan harus semaksimal mungkin berkarya dalam megikuti sayembara tersebut.
Ketiga, saran saya adalah para sastrawan harus meningkatkan produktivitas dalam pembuatan hasil sastra dari segi kuantitas dan kualitasnya sehingga kemungkinan diterbitkannya hasil sastra mereka di media massa termasuk di koran ini semakin besar pula. Dengan demikian, insya Allah honorium yang didapat pun akan semakin besar pula. Sebagai simpulan dari secuil ungkapan jiwa saya ini, saya menginginkan pihak sastrawan dan pihak pemerintah, termasuk Balai Bahasa Banjarmasin dalam hal ini selalu menempatkan harga-menghargai di atas kepintingan pribadi atau pun golongan. Setuju? Bagaimana menurut Anda?

Sabtu, 05 Januari 2008

ARTIKEL 3 MAHMUD JAUHARI ALI


Membina Keakraban Balai Bahasa Banjarmasin dan Sastrawan Kalsel

Mahmud Jauhari Ali

RADAR BANJARMASIN

Beberapa kali saya membaca sejumlah tulisan yang dimuat di salah satu surat kabar lokal di Kalimantan Selatan tentang sastra dan kehidupannya. Tulisan-tulisan tersebut membuat hati saya terenyuh dan otak saya mulai berpikir soal kehidupan sastra di Kalimantan Selatan. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, apalagi menyudutkan pihak tertentu. Dalam tulisan ini saya hanya mencoba mengakrabkan jiwa para sastrawan Kalsel dengan Balai Bahasa Banjarmasin. Sebenarnya tulisan ini tidak perlu muncul jika rekan-rekan saya di Balai Bahasa Banjarmasin bersedia menulis sepatah dua patah kata mengenai masalah kehidupan sastra di provinsi ini yang sedang diusung oleh para sastrawan Kalimantan Selatan saat ini. Saya sudah menunggu beberapa waktu munculnya tulisan mereka menanggapi unek-unek sebagian sastrawan Kalsel dalam tulisan mereka tersebut. Akan tetapi, sampai detik ini belum juga ada tulisan yang muncul. Entah saya yang kurang membaca media masa ataukah memang benar kata-kata saya dalam kalimat terakhir tadi. Hal itu terjadi mungkin mereka tidak sempat menulis karena pekerjaan mereka sangat banyak di Balai Bahasa Banjarmasin berkenaan dengan bahasa dan sastra. Semoga tulisan saya ini tidak salah isi dan semoga pula rekan-rekan di Balai Bahasa Banjarmasin tidak merasa dilangkahi oleh saya.
Baiklah saya mulai saja mengungkapkan pikiran saya seputar masalah sastra dan kehidupannya di Kalimanatan Selatan yang kita cintai ini. Tidak kurang dan tidak lebih isi tulisan yang saya baca beberapa waktu yang lalu berkaitan dengan sastra di Kalimantan Selatan. Tentunya dalam hal ini selalu melibatkan sastrawan sebagai pelaku aktif dunia sastra. Hidup matinya sastra salah satunya bergantung pada mereka. Oleh karena itu, wajar saja mereka “berteriak” dengan lantangnya mengenai hal yang menjadi bagian penting hidup mereka, yakni hidupkan sastra! Kehidupan sastra selain bergantung pada sastrawan, juga memerlukan apresiasi bahkan lebih daripada itu dari berbagai pihak, salah satunya adalah lembaga yang berkecimpung di dunia sastra. Sebut saja Balai Bahasa Banjarmasin yang memiliki tugas pokok mengadakan pembinaan dan penelitian di bidang bahasa dan sastra, khususnya bahasa dan sastra di Kalimantan Selatan. Sudah cukup banyak pembinaan-pembinaan dan penelitia-penelitan di bidang bahasa dan sastra yang telah diselesaikan oleh pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Misalnya saja penyuluhan bahasa dan bengkel sastra, keduanya merupakan tindakan nyata pembinaan di bidang bahasa dan sastra yang diperuntukkan bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Hasil-hasil penelitian seperti penelitian Pemetaan dan Kekerabatan Bahasa-Bahasa di Kalimantan Selatan dan penelitian Mantra Banjar juga merupakan wujud nyata kerja pihak Balai Bahasa Banjarmasin di bidang kebahasaan dan kesastraan. Intinya, pihak Balai Bahasa Banjarmasin telah banyak memberikan kontribusi bagi Provinsi Kalimantan Selatan, baik di bidang kebahasaan maupun kesastraan.
Sayangnya, pihak luar kurang mengetahui hal itu sehingga Balai Bahasa Banjarmasin dianggap oleh beberapa sastrawan tidak memiliki kepedulian terhadap kehidupan sastra di provinsi ini. Hal ini ternyata merembet pada masalah honorium untuk sastrawan yang cipta sastranya dimuat di surat kabar. Menutrut saya sastarwan dalam hal ini tidak salah. Wajar saja jika sebuah tulisan dihargai karena sebuah tulisan tidak akan muncul dengan sendirinya, melainkan dengan jerih payah penulisnya.
Menurut saya, masalah ini harus segera dijernihkan melalui diskusi antara pihak sastrawan Kalimantan Selatan dan pihak Balai Bahasa Bajarmasin. Harus ada pembicaraaan langsung antara kedua belah pihak, misalnya para sastrawan dan pihak Balai Bahasa Banjarmasin berinisiatif membicarakannya dengan baik di Aula Balai Bahasa Banjarmasin yang luas itu. Di sana harus dibicarakan secara tuntas masalah kehidupan sastra di Kalimatan Selatan, termasuk masalah honorium sastrawan yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan saat ini. Dengan pembicaraan dalam diskusi tersebut diharapkan hubungan sastrawan dan pihak Balai Bahasa Banjarmasin semakin akrab dan membuahkan kerja sama yang baik demi kehidupan sastra di banua kita.

ARTIKEL 2 MAHMUD JAUHARI ALI


Mantra Banjar: Bukti Orang Banjar Mahir Bersastra Sejak Dahulu


Mahmud Jauhari Ali

SPIRIT KALSEL


Pur sinupur/ Bapupur di piring karang/ Bismillah aku bapupur/ Manyambut cahaya si bulan tarang/ Pur sinupur/ Kaladi tampuyangan/ Bismillah aku bapupur/ Banyak urang karindangan…. Demikianlah penggalan salah satu mantra Banjar yang sudah ada sejak zaman dahulu. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa orang Banjar sejak dahulu hingga sekarang menggunakan mantra Banjar untuk berbagai keperluan, seperti untuk mempermudah melahirkan, menjadikan tubuh kebal terhadap senjata tajam, dan untuk membuat anak berhenti menangis.
Di samping mengandung kebergunaan bagi orang Banjar seperti yang dipaparkan di atas, mantra Banjar yang telah berkembang dalam masyarakat Banjar hingga sekarang memiliki fungsi sebagai pengungkap tata nilai sosial budaya. Bahkan lewat mantra Banjar, kita dapat menggali nilai budaya yang lebih mendalam yaitu kepercayaan atau religi. Kita akan mengetahui religi yang ada atau pernah ada dalam masyarakat Banjar melalui mantra Banjar. Dalam mantra Banjar terdapat pengaruh religi berupa unsur Kaharingan, unsur Melayu dan Jawa Budha, dan unsur Islam. Berdasarkan pengaruh-pengaruh relig ini, kita akan mengetahui bahwa dalam masyarakat Banjar, baik Banjar Kuala, Banjar Hulu, maupun Banjar Batang Banyu ada atau pernah ada ketiga usur religi tersebut, yakni Kaharingan, Budha, dan Islam.
Sebagai sebuah bentuk sastra lisan yang bersifat magis, mantra Banjar biasanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Akan tetapi, hal ini tidak menutup kemungkinan orang biasa juga memunyai atau menguasai mantra-mantra tertentu untuk keperluan sehari-hari. Terlepas dari masalah religi dan unsur magis tersebut, mantra Banjar merupakan salah satu jenis sastra lisan milik orang Banjar. Mantra Banjar termasuk ke dalam jenis puisi lama orang Banjar. Puisi lama yang satu ini diciptakan dan dilafalkan oleh orang Banjar sejak dahulu untuk berbagai keperluan sehari-hari. Penciptaan dan pelafalan mantra Banjar tersebut mengandung arti bahwa orang Banjar sejak dahulu sudah mahir berpuisi, yakni dalam hal penciptaan dan pelafalan puisi lama berupa mantra Banjar. Dapat pula kita katakan bahwa mantra Banjar menjadi bukti sejak dahulu orang Banjar sudah mahir bersastra, yakni pada jenis puisi lama.
Mantra Banjar harus kita lestarikan karena selain berfungsi sebagai pengungkap tata nilai sosial budaya Banjar dan bermanfaat dalam penggalian nilai-nilai religi masyarakat Banjar, melalui mantra Banjar kita dapat membuktikan bahwa orang Banjar mahir bersastra sejak dahulu. Pelestarian mantra Banjar dapat dilakukan dengan mendokumentasikan mantra-mantra Banjar dalam bentuk buku yang mudah dibaca oleh masyarakat Banjar khususnya dan masyarakat di luar etnik Banjar umumnya. Satu hal yang juga perlu kita ingat adalah mantra Banjar harus kita jaga jangan sampai diakui oleh pihak-pihak lain sebagai sastra milik mereka.
Mantra Banjar juga mengandung arti bahwa orang Banjar sejak dahulu memiliki kebiasaan berpuisi (menciptakan dan melafalkan puisi lama yang disebut mantra Banjar). Bentuk pelestarian yang lebih hidup dan sesuai perkembangan zaman pada masa sekarang ini berkaitan dengan mantra Banjar adalah melestarikan kebiasaan berpuisi seperti yang dilakukan orang Banjar zaman dahulu. Bentuk konkrit pelestarian yang lebih hidup ini adalah menciptakan puisi-puisi pada zaman sekarang. Alhamdulillah bentuk konkrit pelestarian yang lebih hidup ini sudah banyak dilakukan oleh orang Banjar zaman sekarang. Bahkan orang Banjar sekarang sudah ada yang memasukkan puisi-puisi ciptaan mereka dalam laman atau web internet pribadi, sebut saja laman atau web milik penyair terkenal Kalsel yang bernama M. Arsyad Indradi, S.Pd., yakni www.sastrabanjar.blogspot.com dan www.penyair-kalsel.blogspot.com.

ARTIKEL 1 MAHMUD JAUHARI ALI


Menggagas Pementasan Seni Sastra Banjar Mingguan


Mahmud Jauhari Ali

BANJARMASIN POST


Sastra erat kaitannya dengan bahasa. Bahasa merupakan media yang digunakan sastrawan dalam bersastra baik lisan maupun tulisan. Media yang dimaksudkan di sini adalah media komunikasi untuk menyampaikan ide atau gagasan sastrawan kepada khalayak ramai. Seorang sastrawan sebenarnya menciptakan sastra untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat luas dengan pengetahuan yang dimilikinya sekaligus menjadikannya sebagai hiburan segar bagi penikmatnya. Penyampaian itu dilakukan sastrawan dengan media berupa bahasa dalam hasil sastra yang diciptakannya. Kecendekiaan sastrawan dapat kita temukan dalam hasil sastra mereka yang kita baca atau kita lihat dan kita dengarkan lewat pementasan. Kita harus sadar bahwa sastrawan adalah seorang yang cendekia. Jika bukan seorang cendekia, mereka tidak akan dapat menciptakan karya-karya sastra yang bermutu. Sebagai salah satu contoh hasil karya sastra bermutu yang dapat menjadi hiburan dan bermanfaat bagi kita adalah cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis yang mengandung pengetahuan Islam dan hiburan bagi kita.
Cerpen di atas hanyalah satu contoh karya sastra modern di Indonesia. Sebenarnya bukan hanya karya sastra modern yang dapat menjadi hiburan dan bermanfaat bagi kita sebagai masyarakat luas. Sastra daerah pun sudah menjadi hiburan dan bermanfaat bagi masyarakat luas sejak dahulu hingga sekarang. Sebut saja mamanda, lamut, madihin, dan wayang gung, telah digunakan sebagai hiburan dan bahan pencerahan bagi masyarakat Banjar. Melalui bahasa Banjar yang dikemas sedemikian rupa, seni sastra tersebut dipentaskan dengan tujuan menghibur dan membuka wawasan masyarakat Banjar terhadap kondisi yang sedang terjadi.
Pada masa kini seni sastra Banjar tersebut jarang dipentaskan di depan masyarakat luas. Memang pernah ada seni sastra Banjar dipentaskan di sebuah mal terbesar se-Kalimantan, tetapi pementasannya tidak secara rutin. Dengan jarangnya seni sastra Banjar dipentaskan di depan masyarakat luas dan dengan maraknya pementasan seni modern Indonesia di Provinsi ini, masyarakat Banjar menjadi kurang mengenal sastra daerah sendiri. Pementasan seni sastra Banjar seharusnya dilakukan secara rutin dalam jangka waktu yang tidak lama, misalnya sekali seminggu dan dipentaskan di tempat-tempat yang strategis. Tempat-tempat yang strategis itu seperti di pusat-pusat keramaian, misalnya di Duta Mal, Mitra Plasa, lapangan TVRI Kalsel, halaman gedung Sultan Suriansyah, dan lapangan Murjani Banjarbaru. Di tempat-tempat seperti itu masyarakat Banjar yang sebelumnya tidak berminat menyaksikan pementasan seni sastra Banjar pun akan melihat langsung seni sastra Banjar yang sedang dipentaskan karena mereka telah berada di tempat tersebut. Paling tidak dengan pementasan seperti itu, mereka mendengar bahasa dan musik yang dipentaskan dalam seni sastra Banjar tersebut.
Kita tentu merasa bingung, di Banjarmasin yang menjadi ibukota Kalimantan Selatan ada Studio 21 yang sebagian menyuguhkan film-film asing setiap hari, tetapi mengapa di ibukota provinsi ini jarang ada pementasan seni sastra Banjar yang dipentaskan di tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang Banjar? Di Banjarmasin dan daerah-daerah lainnya dalam wilayah Kalsel seharusnya ada pementasan seni sastra Banjar mingguan. Maksudnya, seni sastra Banjar dipentaskan sekali seminggu di tempat-tempat keramaian yang berada dalam wiayah-wilayah tersebut. Hal ini penting karena dengan pementasan seperti ini masyarakat Banjar lebih mengenal seni sastra daerah sendiri dan mendapatkan pencerahan terhadap kondisi-kondisi sekarang, sekaligus mendapatkan hiburan yang segar.