Selasa, 28 April 2009

Artikel Kesastraan

__________________________________________________________

BERANDA :: ALAMAT :: POS-EL :: TELEPON :: BUKU TAMU

__________________________________________________________


ARTIKEL 9 MAHMUD JAUHARI ALI




Publikasi Sastra: Surat Kabar, Tabloid, Laman, dan Majalah

Mahmud Jauhari Ali

RADAR BANJARMASIN


=====Hari ini, tanggal 29 Maret 2009, saya tercengang dengan adanya tulisan berjudul Bengkel Sastra di Kotabaru yang terbit di SKH Radar Banjarmasin. Tulisan itu merupakan sebuah tanggapan terhadap tulisan berjudul Sastrawan Palgiat Vs Sastrawan Gila Hormat karangan M. Nahdiansyah Abdi dengan tanggal terbit 22 Maret 2009 di surat kabar harian yang sama. Mengapa saya tercengang? Hal itu disebabkan dalam tulisan itu terdapat pemublikasian kegiatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan yang bernama bengkel sastra. Pemublikasian ini sebenarnya juga merupakan dokumentasi pertama kalinya yang dapat dibaca oleh khalayak ramai atas kegiatan UPT Pusat Bahasa tersebut di Kalimantan Selatan oleh seorang Helwatin Najwa. Mengapa pula saya katakan sebuah dokumentasi yang pertama kalinya? Karena, selama ini Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan belum pernah mendokumentasikan sendiri kegitan-kegiatannya di media massa yang disaksikan oleh masyarakat luas di Kalimantan Selatan.

=====Dalam tulisan Najwa itu, ia sempat menyebutkan pernah jalan-jalan di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan dan menonton pelatihan bengkel drama atau lebih tepatnya bengkel sastra untuk bidang drama pada tahun 2007 lalu. Menurut saya pemberitahuan ini tidak sejalan dengan salah satu isi tulisan Najwa pada awal 2008 yang telah lewat. Dalam tulisannya pada awal tahun 2008 itu ia menyatakan bahwa Balai Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan belum menunjukkan keseriusannya di bidang sastra. Atau jangan-jangan, dengan bengkel sastra di bidang drama tahun 2007 dan bengkel sastra tahun 2009 di Kotabaru itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan belum menunjukkan keseriusannya dalam dunia sastra di mata Hewalin Najwa? Entahlah? Ah sudahlah! Saya tidak mau berlama-lama mempermasalahkan hal terakhir tadi karena hal itu tidaklah terlalu penting bagi kita. Hal yang menurut saya perlu menjadi perhatian kita adalah pemublikasian kegiatan-kegiatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan di tengah masyarakat. Pemublikasian ini sangat perlu mereka lakukan agar kegiatan-kegiatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan itu diketahui oleh masyarakat yang membiayai hidup matinya instansi tersebut. Tentunya yang tidak kalah pentingnya adalah pemublikasian karya-karya sastra oleh para sastrawan di Provinsi Kalimantan Selatan secara terus-menerus dengan semangat juang yang tinggi.

Pemublikasian dapat dilakukan dengan berbagai media. Bisa lewat surat kabar, tabloid, buletin, majalah, buku, radio, televisi, dan juga melalui laman. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya hanya akan membicarakan surat kabar ,tabloid, laman, dan majalah sebagai media-media yang berperan penting dalam kehidupan sastra di Provinsi Kalimantan Selatan.

Surat Kabar Harian dan Tabloid

Tidak semua surat kabar harian dan tabloid di provinsi ini memuat kolom sastra. Akan tetapi, hal itu tidak menjadi alasan bagi kita tidak menulis sastra di surat kabar dan tabloid. Menurut hemat saya, surat kabar dan tabloid merupakan pilihan yang sangat bagus untuk memublikasikan karya-karya sastra, termasuk juga dalam hal ini adalah kegiatan-kegiatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan seperti yang dilakukan Najwa dengan tulisannya tersebut. Khusus untuk publikasi hal terakhir tadi, surat kabar dan tabloid yang dipilih bukanlah surat kabar dan tabloid yang hanya dinikmati oleh segelintir orang atau yang lebih dikenal dengan surat kabar intern. Akan tetapi, surat kabar dan tabloid yang harus dipilih Balai Bahasa Provinsi Kaliantan Selatan untuk pemublikasian kegitan-kegiatan yang telah, sedang, atau pun yang belum dilaksanakan instansi itu adalah surat kabar dan tabloid yang merakyat. Setuju?

Sebenarnya bukan hanya kegiatan-kegiatan sastra saja yang harus dipublikasikan pihak Balai Bahasa Provinsi Kalimanan Selatan di surat kabar dan tabloid, tetapi juga tulisan-tulisan sastra oleh orang-orang di dalamnya. Selama ini jarang kita temukan tulisan para orang Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan di surat kabar dan tabloid. Hanya ada tiga nama orang Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan yang pernah menulis dalam surat kabar harian dan juga tabloid di provinsi ini. Ketiganya itu adalah Rissari Yayuk, Yuliati Puspita Sari dan Saefuddin. Lalu ke mana kah yang lainnya sehingga tidak menulis? Padahal sebenarnya meraka dapat memberikan warna baru di dunia sastra provinsi ini dengan pengetahuan ala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan yang mereka miliki. Bukankah dengan hadirnya tulisan-tulisan mereka di belantikan sastra Kalimantan Selatan akan lebih baik bagi provinsi ini? Karena itulah, seharusnya mereka menulis di surat kabar dan tabloid untuk kemajuan kita bersama. Setujukah Anda?

Dengan tulisan ini saya mengajak rekan-rekan dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan untuk menulis di surat kabar dan tabloid di provinsi ini. Jadi, alangkah baiknya kita memanfaatkan surat kabar dan tabloid yang merakyat untuk memublikasikan karya-karya sastra kita dan juga kegiatan-kegiatan sastra kepada masyarakat luas.

Laman Kesastraan

=====Sehubungan dengan kemajuan ilmu dan teknologi, kita masing-masing dapat memublikasikan karya sastra di laman (blog). Pemublikasian karya sastra dan hal-hal lainnya di laman lebih memudahkan kita untuk saling berinteraksi dan berbagi pengetahuan dengan masyarakat di belahan bumi mana pun. Jika kita kaitkan kebermanfaatan laman bagi dunia sastra, setiap UPT Pusat Bahasa yang merupakan lembaga penelitian yang sarat dengan keilmuan dan kepakaran di bidang bahasa dan sastra seharusnya memiliki sebuah laman resmi. Mengapa saya katakan seharusnya? Karena, dengan adanya laman resmi tersebut, masyarakat akan dapat melihat kegiatan-kegiatan instansi yang mereka biayai, masyarakat juga dapat bertanya seputar bahasa dan sastra, memberikan komentar dan saran, berdiskusi, dan dapat mendapatkan pengetahuan dari disiplin linguistik dan sastra di sana. Alangkah baiknya bukan jika Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan memiliki laman resmi?

=====Dengan adanya laman itu insya Allah, hubungan sastrawan dan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan juga akan lebih erat dalam usaha memajukan sastra di Kalimantan Selatan. Kedua belah pihak akan lebih mudah berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Komunikasi yang saya maksud di sini adalah komunikasi dalam kaitannya dengan dunia sastra Kalimantan Selatan dalam nuansa persaudaraan yang indah. Saya berharap Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan sesegera mungkin membangun kantor baru di dunia maya yang lebih komunikatif daripada kantor lama di Jalan Jend. A. Yani Km 32,200 sekarang ini. Sebagian besar balai bahasa lainnya juga sudah memiliki laman resmi mereka, seperti www.balaibahasabandung.web.id. Jadi, tidak ada alasan lagi dari pihak Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan untuk tidak membuat kantor baru di dunia maya.

Majalah Sastra

=====Nahdiansyah dan Najwa dalam tulisan mereka juga menyebutkan majalah Horison dan anak-anak sekolah. Majalah sastra ini memang sangat bagus untuk proses pendidikan bagi anak-anak sekolah. Selain mereka dapat mengetahui karya-karya sastra yang baik dan juga pengetahuan sastra di dalamnya, mereka juga dapat turut serta aktif berkarya di majalah sastra terbitan Jakarta itu. Namun demikian, sangat disayangkan majalah ini merupakan majalah sastra yang tidak tersebar luas di Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin saja, kita hanya dapat memperolehnya di toko buku besar. Itu pun dalam jumlah yang sedikit. Kita mudah mendapatkannya jika kita mau berlangganan majalah itu. Menjadi tidak masalah apabila pihak sekolah berlangganan majalah Horison. Akan tetapi, bagaimana dengan sekolah yang tidak berlangganan majalah sastra tersebut?

Jika kita kaitkan antara majalah sastra dan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan yang juga berkecimpung dalam dunia sastra, muncul sebuah pertayaan. Mengapa instansi itu tidak membuat majalah sastra di Kalimantan Selatan untuk mewadahi geliat bersastra sastrawan dan anak-anak sekolah di provinsi ini? Seharusnya, untuk mewadahi berbagai tulisan sastra hasil karya urang banua, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan harus membuat majalah sastra yang disebarkan di tengah masyarakat provinsi ini. Dengan majalah itu, masyarakat akan lebih memiliki media sastra untuk melengkapi kepustakaan mereka.

Bayangkan saja, bagaimana mungkin hasil bengkel sastra dapat lebih disalurkan para siswa alumni bengkel sastra sedangkan pihak Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan sendiri tidak menyediakan wadah berupa majalah sastra untuk menampung karya-karya anak-anak alumni bengkel sastra mereka itu? Majalah sastra harus diproduksi Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan guna menjadi wadah karya sastra para sastrawan dan anak-anak sekolah di provinsi ini, seperti halnya majalah Horison terbitan Jakarta itu.

Saya yakin, dengan pertolongan-Nya dan dengan usaha yang gigih, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan mampu membuat dan menyebarkan majalah sastra mereka yang memuat karya-karya urang banua di tengah masyarakat Kalimantan Selatan.

Bagian Akhir

=====Pemublikasian tulisan-tulisan sastra dan kegiatan-kegiatan sastra perlu dilakukan di surat kabar, tabloid, laman, dan juga majalah sastra. Perlu adanya pemublikasian karena dengan pemublikasian tersebut, masyarakat di provinsi ini akan mendapatkan pengetahuan di bidang kesastraan dan juga mendapatkan pengetahuan tentang hidup dan kehidupan. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan sebagai sebuah lembaga yang juga berkecimpung di bidang sastra, seharusnya membuat laman resmi mereka dan juga majalah sastra guna pemublikasian sastra. Mengingat pemublikasian sastra itu penting, marilah kita publikasikan karya-karya sastra dan juga kegiatan-kegiatan sastra di media-media kepada masyarakat Kalimantan Selatan. Akhirnya, semoga tulisan saya yang secuil ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Selamat berkarya!

Senin, 20 April 2009

Artikel Kesastraan

__________________________________________________________

BERANDA :: ALAMAT :: POS-EL :: TELEPON :: BUKU TAMU

__________________________________________________________


ARTIKEL 8 MAHMUD JAUHARI ALI



Sastrawan Kalsel: Biografi, Jumlah, dan Masalahnya

Mahmud Jauhari Ali

Radar Banjarmasin


=====Kata sastrawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga merupakan lema yang tergolong nomina dengan beberapa makna di dalamnya. Makna-makna itu adalah ’ahli sastra’, ’pujangga’, ’pengarang prosa dan puisi’, ’(orang) pandai-pandai’, dan ’cerdik cendekia’. Akan tetapi, batasan tersebut hanyalah makna umum yang termuat dalam sebuah kamus terbitan Pusat Bahasa. Kita tentu tidaklah wajib untuk mengikutinya karena Pusat Bahasa tidak selalu benar, ada kalanya mereka kurang tepat bahkan salah dalam hal bahasa. Makna-makna dalam lema sastrawan yang dibentuk dari kata sastra dan akhiran –wan itu hanyalah pemberian sepihak oleh sebuah instansi pemerintah. Kita hanya dipaksa untuk mengakuinya secara konvensional. Begitu pula dengan lema-lema yang lainnya dalam kamus terbitan Pusat Bahasa tersebut. Rugilah kita jika hanya mengikuti dan tanpa berpikir tentang produk-produk mereka. Namun, saya tidak ingin berlama-lama dengan produk Kantor Bahasa Pusat itu yang ternyata bukan pusat segala bahasa. Saat ini saya lebih tertarik dengan tulisan yang menyangkut biografi, jumlah, dan masalah sastrawan Kalimantan Selatan.

=====Ya, tulisan yang ditulis oleh T.N. Ganie dan Hajriansyah telah membuat saya terbuai dengan kata-kata mereka. Begitu indahnya tulisan mereka hingga saya pun bersemangat menggerakkan broca dalam otak saya untuk memproduksi kata-kata. Semoga saja tulisan saya ini bermanfaat bagi kita.


Bagian Pertama

Dalam Gairah Bersastra di Kalsel 2000—2008 (Cakrawala Radar Banjarmasin: 4, terbitan Minggu, 18 Januari 2009) T.N. Ganie menyebutkan dengan jelas bahwa setidak-tidaknya ada enam puluh sastrawan yang muncul pada rentang waktu 2000—2008. Jika kita cermati secara mendalam, jumlah itu tidak dapat kita jadikan sebagai patokan untuk sebuah pengetahuan di bidang sastra. Akan tetapi, hanya dapat kita jadikan sebagai bahan perkiraan jumlah yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Karena dalam tulisannya itu, T.N. Ganie memakai kata ulang setidak-tidaknya (lihat kembali paragraf pertama dalam Gairah Bersastra di Kalsel 2000—2008). Kata ulang itu menunjukkan angka yang paling sedikit. Maksudnya, paling sedikit ada enam puluh sastarawan. Kata ulang itu juga menunjukkan sikap tidak yakin dari T.N. Ganie dalam memutuskan jumlah yang tepat.

=====Setelah saya telusuri nama demi nama sastrawan yang muncul dalam rentang waktu 2000—2008 itu, ternyata nama-nama seperti Hajriansyah, Nailiya Nikmah JKF, dan Sainul Hermawan tidak tertera sebagai sastrawan Kalsel dalam rentang tersebut. Padahal, setahu saya ketiga contoh nama itu kerap muncul di Cakrawala Radar Banjarmasin. Tulisan mereka pun layak untuk dipandang sebagai karya sastra yang bermutu. Jadi, sebenarnya ada lebih daripada enam puluh sastrawan Kalsel yang muncul dalam rentang waktu 2000—2008. Muncul pertanyaan dalam sanubari saya, apa alasan T.N. Ganie yang bergelut dalam bidang sastra di Kalsel selama 28 tahun ini tidak memuat nama-nama seperti dalam contoh itu? Namun sudahlah, mungkin hanya masalah lupa, atau entahlah? Semoga T.N. Ganie juga ikut memikirkannya untuk kebaikan kita bersama.

=====Dalam judul yang sama, T.N. Ganie juga menyebutkan dengan jelas bahwa berdasarkan hasil pengamatan sekilas, sastrawan yang paling bergairah beraktivitas di jagad sastra pers adalah sastrawan yang muncul dalam rentang waktu 2000—2008. Sastrawan yang lahir sebelumnya tampaknya lebih senang memperkukuh eksistensi kesastrawanannya melalui sastra buku. Jujur, saya dibuat T.N. Ganie terdiam sejenak menyaksikan kata sekilas dalam paragraf ketiga pada Gairah Bersastra di Kalsel 2000—2008 itu. Kata tersebut mengandung maksud bahwa T.N. Ganie tidak mengadakan pengamatan serius di lapangan. Hal ini merupakan tindakan yang fatal dan mengakibatkan tidak dapat diterimanya hasil sebuah pengamatan. Akibatnya, tidak ilmiah karena tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akal. Kemudian, saya kaitkan hal ini dengan kalimat seterusnya yakni, soal sastrawan masa sebelumnya yang aktif dalam sastra buku. Setelah saya perhatikan, ternyata dalam sastra pers masih bergeliat sastrawan yang dilahirkan sebelum tahun 2000. Sebut saja contohnya M. Hasbi Salim dan Ibramsyah Amandit yang tetap gigih menulis karya sastra di media massa. Contoh yang paling dekat adalah Tajudin Noor Ganie yang juga masih giat dalam sastra pers. Bukti-bukit ini mempengaruhi pernyataan T.N. Gani tentang kesenangan sastrawan yang lahir sebelum tahun 2000 dengan sastra buku yang juga dinyatakan dengan kata yang meragukan, yakni tampaknya.

=====Masih dalam tulisan yang sama, T.N. Ganie juga mengabaikan sastra elektronik selain sastra pers dan sastra buku. Kita sekarng hidup di zaman yang canggih. Jadi, tidak menutup kemungkinan terjadi pemanfaatan teknologi internet sebagai ruang bersastra oleh para sastrawan Kalsel. Sebut saja contohnya Arsyad Indradi yang aktif di www.penyairnusantara.blogspot.com, Sandi Firly yang aktif di www.sfirly.wordpress.com, dan Harie Insani Putra yang aktif di www.hariesaja.net.

=====Dalam tulisan itu juga, T.N. Ganie menyebutkan beberapa simpulan. Dinyantakannya bahwa dominasi sastrawan Kalsel yang muncul dalam rentang 2000—2008 ada kaitannya dengan kemudahan yang diberikan oleh pengasuh rubrik sastra di berbagai koran. Sebenarnya bukan mudah, melainkan lebih mudah daripada menembus koran nasional seperti SKH Kompas dan SKH Republika. Dalam simpulan itu, juga diungkapkan bahwa sastrawan sebelum tahun 2000 tetap produktif menulis karya sastra dengan mutu yang semakin meyakinkan. Sebenarnya hanya sebagian. Tidak semua sastrawan yang dilahirkan sebelum tahun 2000 masih aktif. Jadi, dalam tulisan itu seharusnya, ditambah pula keterangan yang masih hidup di belakang sastrawan kelahiran sebelum tahun 2000.

Di akhir tulisan itu, T.N. Ganie menyatakan bahwa sastrawan yang muncul dalam rentang waktu 2000-2008 dengan kemampuan finansial masih terbatas (masih tergantung pada pemberian orang tua) bagaimana mungkin berani bernekad-ekad menerbitkan buku sastra. Dalam hal ini rupanya T.N. Ganie lupa bahwa tidak semua sastrawan yang dimaksudnya masih menadah uang dari orang tua. Sebut saja M. Nahdiansyah Abdi bekerja di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum, Abdurrahman El Husaini bekerja sebagai guru dengan status PNS, dan Rissari Yayuk bekerja di instansi bahasa dan sastra. Ini berarti penyataan T.N. Ganie itu perlu diperbaiki agar tidak menjadi sebuah pengetahuan sastra yang kurang tepat. Pengetahuan sastra yang baik sangat diperlukan oleh masyarakat di Kalimantan Selatan.

Bagian Kedua

Dalam Menulis, Penulis: Aha, Sastrawan! (Cakrawala Radar Banjarmasin: 4, terbitan Minggu, 25 Januari 2009) Hajriansyah melemparkan sebuah pertanyaan ditujukan kepada T.N. Ganie yang menggelitik otak saya untuk berpikir. Pertanyaan itu adalah apakah dengan cukup pernah menulis satu tulisan saja kemudian orang itu dapat dicatat sebagai sastrawan, meski kemudian si penulis itu tidak pernah menulis lagi? Pertanyaan ini dijawab oleh T.N. Ganie dengan kata Ya dalam tulisannya berjudul Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya yang diterbitkan pada tanggal 1 Februari 2009 di koran yang sama. Jujur, jawaban T.N. Ganie ini membuat hati saya kurang sependapat dengannya. Mengapa?

Pertama, hal ini dapat berdampak buruk terhadap dunia sastra di Kalimantan Selatan. Para penulis sastra, misalnya puisi, yang baru saja menulis dapat berhenti berkarya karena dirinya sudah dicatat sebagai sastrawan. Mereka yang ingin menjadi sastrawan Kalsel, dengan keputusan T.N. Ganie itu, tentunya sudah mencapai tujuan, yakni diakui sebagai sastrawan. Jadi, untuk apa lagi mereka berkarya? ’Kan sudah menjadi sastrawan Kalsel? Ini namanya meredupkan cahaya dunia sastra di Kalsel. Jawaban T.N. Ganie tersebut juga dapat menyebabkan matinya usaha oleh penulis sastra pemula memperbaiki hasil cipta sastra untuk menjadi lebih baik lagi agar diakui sebagai sastrawan.

Kedua, belumlah layak jika hanya satu kali menulis langsung diakui sebagai sastrawan. Mereka yang baru satu kali menulis ini lebih layak disebut sebagai penulis karya sastra sangat pemula. Karena mereka baru pertama sekali menulis di koran, majalah, buku, atau laman (blog).

Dalam tulisannya, Hajriansyah juga berasumsi. Ya, hanya berasumsi bahwa nama-nama sastrawan Kalsel tak pernah ’dianggap’ di ranah kesusastraan Indonesia karena memang karya-karya sastrawan Kalsel tak cukup ’bagus’ di mata dunia; terlampau mudah menjadi sastrawan Kalsel. Menyangkut masalah ini, T.N. Ganie dalam Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya menyatakan tidak ada hubungan antara kemudahan menjadi sastrawan Kalsel dengan diakuinya sastrawan Kalsel di ranah kesastraan Indonesia. Sepengetahuan saya tidak semua nama sastrawan Kalsel tidak dianggap di ranah Indonesia. Buktinya, Micky Hidayat dinobatkan sebagai Ketua III Komunitas Sastra Indonesia. Begitu pula dengan Sandi Firly yang cerpen-cerpennya dimuat dalam Jurnal Cerpen Indonesia.

Menurut saya, dengan mudahnya seseorang diakui sebgai sastrawan Kalsel juga mempengaruhi mutu karya sastra yang diciptakannya. Karena sudah menjadi sastrawan Kalsel, penulis pemula sekali tidak bergairah lagi mengejar target menjadi sastrawan. Keadaan yang seperti itu, menyebabkan karya-karya yang dihasilkan kurang bermutu. Namun demikian, sebenarnya dengan tertolaknya naskah puisi, cerpen, atau mungkin novel sasrawan Kalsel di ranah Indonesia, memberikan kesadaran. Kesadaran bahwa untuk dapat diterima di ranah Indonesia dan dunia, perlu kerja keras membuat karya yang bagus dan tentunya juga sesuai selera dewan redaksi di luar sana.

Menganai sastrawan mana yang paling produktif, kreatif, konsisten, terkenal, dan sebagainya, sastrawan Abdul Karim Amar (AKA) yang kini aktif di KSI Cabang Kertak Hanyar memisalkannya seperti obat paten dan generik. Artinya, sastrawan itu ada yang ”paten” dan ada yang ”generik”. Hal itu menurutnya perlu disadari dalam diri masing-masing. Apakah diri kita termasuk ke dalam yang paten ataukah yang generik? Introspeksi dirilah.

Hal yang membuat saya terusik adalah pernyataan T.N. Ganie dalam Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya bahwa apa perlunya kita memaksa seseorang agar tetap mengukuhi profesinya sebagai sastrawan.... Lanjutnya, padahal kita tahu, profesi sebagai sastrawan, terutama sekali di daerah Kalsel, bukanlah profesi yang dapat dijadikan sebagai penopang hidup. Menurut saya, kita tidak perlu memaksa, melainkan mengajak orang-orang untuk berkarya sastra guna memajukan sastra di Kalsel. Ya, agar lebih maju lagi daripada yang kita capai sekalrang. Bersastra memang bukan sekadar mencari materi, melainkan lebih daripada itu, bersastra adalah untuk kemanusiaan dan keagungan Tuhan. Percayalah, dengan itu batin kita akan menjadi kaya yang melebihi kekayaan materi.


Bagian Tiga

Menyangkut buku Antologi Biografi 426 Sastrawan Kalsel yang disebut-sebut T.N. Ganie dalam Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya, setelah saya amati, perlu dicek ulang untuk kebaikan kita bersama. Dalam buku itu masih ada kesalahan penulisan tahun lahir. Sebut saja Rissari Yayuk pada halaman 361 dalam buku itu dituliskan tahun lahirnya 1982. Seharusnya ia lahir pada tahun 1976. Contoh lainnya, Abdul Karim Amar pada halaman 21 buku itu dituliskan tahun lahirnya 1945. Seharusnya tahun 1954.

Selain itu, penambahan nama sastrawan juga diperlukan dalam buku itu. Dalam Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya disebutkan T.N. Ganie bahwa syarat agar masuk dalam Antologi Biografi 426 Sastrawan Kalsel adalah adanya biografi kesastrawanan yang berangkutan. Saya menyarankan, jika seandainya seorang sastrawan yang kerap menulis karya sastra di koran dan tidak ada biografinya, tanyakan saja ke pengasuh rubrik sastra koran tersebut. Karena, biasanya pengasuh rubrik sastra koran yang bersangkutan tahu sedikit banyak dengan para sastrawan yang karyanya dimuat dikoran tersebut. Jadi, tidak harus dengan buku yang memuat biografi sastrawan Kalsel.

=====Sastrawan Kalimantan Selatan jumlahnya tidaklah sedikit. Dengan jumlah yang banyak itu, ditambah lagi dengan kemunculan sastrawan Kalsel pada tahun-tahun yang berbeda, memang perlu pendokumentasian yang akurat dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Apa yang telah dilakukan T.N. Ganie dengan karyanya memang harus kita hargai dengan memberikan perhatian seperti berupa kritik dan semangat kepadanya untuk hasil yang lebih baik lagi. Akhirnya, marilah kita bersama-sama berusaha memberikan kontribusi yang berharga dalam memajukan sastra di Kalimantan Selatan semampu diri kita. Bagaimana menurut Anda?


Jumat, 15 Agustus 2008


__________________________________________________________

BERANDA :: ALAMAT :: POS-EL :: TELEPON :: BUKU TAMU

__________________________________________________________


ARTIKEL 7 MAHMUD JAUHARI ALI



Penulis dan Masyarakat Pembaca

(Tanggapan terhadap Tulisan Syaefuddin)

Mahmud Jauhari Ali

Radar Banjarmasin


Sejak pertengahan bulan September 2008 yang lalu banyak tulisan bermunculan di ruang diskusi tertulis ini. Tulisan-tulisan itu membahas sebuah buku yang berjudul Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan atau lebih dikenal dengan singkatan ESKS di kalangan masyarakat pembaca. Buku ini menurut saya sangat hebat karena dapat menyedot banyak penulis untuk mengupas dan membahasnya. Tercatat sudah genap sepuluh penulis mencurahkan pemikiran untuk kebaikan buku tersebut. Ada penulis yang mengkritik dan ada juga penulis yang berusaha membelanya. Dapat dikatakan buku itu sekarang berada dalam kontroversi.

Dari sekian tulisan yang pernah saya baca di ruang diskusi tertulis ini, ada satu tulisan yang membuat saya kurang berkenan menerimanya, yakni tulisan Syaefuddin. Dalam tulisan itu dikatakan adanya sikap apriori dan tersirat menghakimi serta menelanjangi ESKS dari para penulis sebelumnya. Para penulis sebelumnya bersikap apriori menurut saya tidak benar. Mengapa tidak benar? Karena, para penulis sebelumnya tidak sedang berpraanggapan terhadap ESKS, tetapi sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya dari buku tersebut. Artinya, para penulis sebelumnya sudah membedah isi buku yang diterbitkan Balai Bahasa Banjarmasin itu dan mengetahui kekurangan dan kelebihan yang ada dalam isi dan bagian lainnya. Dengan kata lain, para penulis sebelumnya tidak sedang berhipotesis dalam sebuah penelitian.

Menurut saya para penulis sebelumnya juga tidak sedang mengadili atau berlaku sebagai hakim terhadap ESKS. Mengapa demikian pula? Karena, para penulis sebelumnya hanya mengatakan sebuah kejujuran dari kebenaran yang ada dalam buku tersebut. Salah jika penulis sebelumnya mengatakan bahwa ESKS sangatlah baik karena itu perkataan yang tidak jujur. Para penulis sebelumnya bukan manusia-manusia munafik. Seandainya tidak ada tulisan yang berisi tentang kekurangan ESKS, niscaya tidak akan terungkap kebenaran dalam buku tersebut. Karena itulah, pihak Balai Bahasa Banjarmasin, khususya Syaefuddin seharusnya berterima kasih kepada para penulis sebelumnya yang telah menunjukkan sejumlah kekurangan yang harus diperbaiki tanpa harus membayar.

Sebuah buku memang harus dibedah atau ditelanjangi (saya lebih memilih kata dibedah daripada kata ditelanjangi) untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada dalam buku tersebut, termasuk ESKS. Jadi, tidak salah jika para penulis sebelumnya membedah buku ESKS dan membahas kekurangannya. Mengapa kekurangannya yang dibahas? Karena, hal itu demi perbaikan buku yang dibedah tersebut. Sangat naif jika kita hanya membicarakan kebaikan sebuah buku karena hal itu akan membuat kesombongan dalam diri penulis buku yang bersangkutan. Bukankah kesombongan harus kita perangi dan berantas dalam diri kita? Jadi, sebuah buku memang harus dibedah dan karena itulah sekali lagi saya katakan para penulis sebelumnya tidaklah salah mengadakan operasi pembedahan ESKS.

Selain ketiga hal di atas, saya juga kurang berkenan menerima pernyataan Syaefuddin yang menyalahkan para penulis sebelumnya yang menulis di media (lihat paragraf delapan dari tulisan berjudul ESKS, Antara Harapan dan Kenyataan). Bahkan dalam kalimat yang sama, Syaefudiin mengatakan para penulis sebelumnya telah sedikit banyak menulis yang bemuatan pembunuhan karakter tentang ESKS. Kali ini saya benar-benar menghembuskan napas panjang membaca tulisan seorang penulis yang demikian. Duduk bersama untuk bermusyawarah guna kebaikan ESKS memang langkah yang baik, tetapi tidak berarti tulisan berupa kritik adalah hal yang buruk. Tulisan berupa kritik adalah hal yang positif.

Menulis adalah proses kreatif setiap orang untuk mencurahkan ide, pengetahuan, dan perasaannya kepada masyarakat pembaca. Dengan tulisan, kita dapat mencerdaskan masyarakat dari kebodohan. Perhatikan saja, dengan adanya tulisan tentang ESKS di ruang diskusi tertulis ini, masyarakat pembaca dapat mengetahui bahwa ESKS memiliki kekurangan yang harus diperbaiki. Dengan demikian, masyarakat pembaca dapat berhati-hati menggunakan ESKS. Kita harus sadar bahwa tulisan berupa kritik bukanlah tulisan yang harus ditanggapi dengan emosi, tetapi merupakan tulisan yang sangat berguna dan perlu ditanggapi dengan akal sehat demi kemajuan bangsa ini. Contoh lain dari kritik yang berguna bagi masyarakat pembaca dan yang dikritik adalah seperti berikut ini.

Dalam tulisan Syaefuddin terdapat beberapa kesalahan dalam hal penggunaan bahasa. Pertama, pengunaan tanda koma pada judul. Seharusnya antara ESKS dan Antara diberi tanda titik dua bukan tanda koma. ESKS merupakan judul induk dan Antara Harapan dan Kenyataan merupakan anak judul. Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, antara judul induk dan anak judul dipisah dengan tanda titik dua. Kedua, pada paragraf kelima terdapat adanya penggunaan kata blog yang memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, yakni laman. Seharusnya kata yang digunakan adalah laman dan bukan blog. Ketiga, pada paragraf kelima terdapat kata nafas yang seharusnya ditulis dengan kata napas (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga hal. 774). Keempat, pada paragraf kesebelas ada penggunaan kata sapaan, yakni kata pak yang ditulis dengan Pak. Seharusnya kata sapaan untuk kata ganti orang ketiga tunggal yang bukan untuk pengacuan tidak ditulis dengan menggunakan huruf kapital pada huruf awalnya. Jadi, seharusnya ditulis pak Agus Suseno.

Contoh tulisan krtitik di atas memberikan manfaat bagi masyarakat pembaca dan yang orang yang dikritik. Masyarakat pembaca akan mendapatkan pengetahuan yang berguna bagi mereka seputar penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Jadi, tulisan kritik itu bermanfaat.

Saya menentang keras penyataan Syaefuddin tentang muatan pembunuhan karekter tentang ESKS dalam tulisan para penulis sebelumnya. Mengapa? Karena, tidak ada yang dibunuh. Malahan para penulis sebelumnya menginginkan ESKS menjadi sebuah buku pengetahuan sastra yang benar-benar dapat bermanfaat bagi masyarakat. Melalui tulisanlah para penulis sebelumnya memberikan masukan untuk perbaikan buku tersebut. Menurut saya, Syaefuddin telah membalas air teh yang nikmat sekali dengan air bening yang bernoda. Kebaikan para penulis dibalas dengan tuduhan. Akan tetapi, marilah kita sebagai orang yang bijaksana memaafkan kesalahan Syaefuddin ini. Memaafkan kesalahan oang lain tentu lebih baik daripada berkata-kata yang menyakitkan perasaan sesama.

Kembali kepada kata-kata Syaefuddin tentang musyawarah di atas, kita dapat bertanya, pernahkah Syaefuddin mengundang para sastrawan, mahasiswa, penikmat sastra, guru, dosen, dan masyarakat umum untuk bermusyawarah? Sebuah buku, termasuk ESKS seharusnya ada peluncurannya sekaligus pembedahannya dalam sebuah lokakarya yang dihadiri oleh pihak-pihak yang tidak pernah diundahg tersebut di atas. Sepengetahuan kita buku itu langsung dibagikan kepada berbagai pihak tanpa adanya acara peluncuran dan pembedahan. Dengan tidak adanya peluncuran dan pembedahan tersebut, wajar saja jika tidak ada pula duduk bersama dalam satu meja, bermusyawarah, berembuk, berdiskusi demi kesempurnaan karya tersebut (sesuai kata-kata Syaefuddin pada paragraf delapan dalam tulisannya).

Syaefuddin juga mengatakan hal yang tidak enak untuk kita baca, yakni saling menjatuhkan (lihat paragraf ketiga akhir tulisan tersebut.) Sekali lagi saya sarankan kepada orang-orang Balai Bahasa Banjarmasin agar senantiasa berprasangka baik kepada para penulis yang memberikan sumbangan berupa masukan terhadap ESKS tanpa mereka bayar. Bukannya berprasangka bahwa para penulis yang memberikan masukan tersebut ingin menjatuhkan Balai Bahasa Banjarmasin. Jika saya boleh mengatakan, Syefuddin dalam tulisannya sudah melempar isu negatif seperti halnya yang dikatakan oleh Ali Syamsudin Arsi dalam tulisan berjudul Melempar Isu Negatif. Akan tetapi, sebagai orang-orang yang bijaksana, marilah kita maafkan kesalahan Syaefuddin ini. Jangan ada dendam di antara kita. Dendam hanya akan membuahkan rasa sakit berkepanjangan. Akhirnya, marilah pula kita bersama-sama memajukan sastra di Kalimantan Selatan dengan kejujuran dan kebenaran yang dilandasi iman dan takwa kepada Tuhan YME. Bagaimana menurut Anda?



ARTIKEL 6 MAHMUD JAUHARI ALI

KSI Kertak Hanyar: Ide Awal dan Pembentukannya

Mahmud Jauhari Ali

Radar Banjarmasin

Ide awal pembentukan Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar bermula dari perbincangan sederhana, antara dua orang sastrawan senior yang masing-masing bernama Arsyad Indradi dan Arya Patrajaya di Banjarbaru. Perbincangan itu membahas sebuah rencana pendirian organisasi sastra di Kertak Hanyar yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Saat itu seorang Arsyad Indradi yang memiliki mandat dari Ketua KSI Pusat untuk membentuk KSI cabang di wilayah-wilayah Kalimantan Selatan melihat adanya potensi sastra pada generasi muda di Kertak Hanyar, yakni pada siswa SMA yang tinggal di sana. Beliau berpikiran harus ada wadah bagi generasi muda Kertak Hanyar terutama para siswa SMA tersebut untuk menyalurkan minat dan kemampuan mereka dalam berkarya sastra, baik puisi, prosa piksi, maupun teater. Wadah yang beliau maksud itu adalah Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar.

Rencana tersebut disampaikan oleh Arya Patrajaya kepada salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Kertak Hanyar yang juga merupakan sastrawan satu angkatan dengan Arsyad Indradi, yakni Abdul Karim Amar. Dalam perbincangan santai, tetapi serius antara Arya Patrajaya dan Abdul Karim Amar itu, disepakatilah pendirian Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar oleh keduanya.

Proses pun berlanjut pada pengumpulan orang-orang yang memiliki keinginan untuk memajukan dunia sastra di Kertak Hanyar. Orang pertama yang mereka hubungi untuk diajak bergabung dalam pendirian KSI Cabang Kertak Hanyar adalah penulis sendiri. Saat itu penulis setuju bergabung di dalamnya. Menurut penulis, pendirian sebuah organisasi yang bergerak di bidang sastra sangatlah bagus untuk menciptakan iklim kesastraan di belantika alam Kertak Hanyar yang penulis nilai selama ini minim dalam hal sastra. Tidak dapat kita pungkiri bahwa beberapa tahun ini Kecamatan Kertak Hanyar tidak pernah lagi disebut sebagai sebuah daerah yang bernuansa sastra. Jika dibandingkan dengan Banjarmasin atau Banjarbaru, tentulah Kertak Hanyar bukanlah apa-apa. Dahulu pada tahun 1980-an, di Kecamatan Kertak Hanyar kehidupan sastra dapat dikatakan menggembirakan. Hampir setiap minggu digelar pementasan sastra, seperti pembacaan puisi dan pementasan teater oleh sebuah komunitas sastra yang bernama RENASA yang juga didirikan oleh Abul Karim Amar. Karena kondisi alam sastra di Kertak Hanyar pada saat ini sepi, penulis dengan senang hati menggabungkan diri dalam komunitas yang akan mereka bentuk tersebut.

Beberapa minggu kemudian, yakni pada tanggal 31 Agustus 2008 sudah terkumpul delapan orang termasuk mereka berdua untuk bersama-sama membentuk KSI Cabang Kertak Hanyar. Kedelapan orang tersebut, yakni Arya Patrajaya, Abdul Karim Amar, penulis, Yuliati Puspita Sari, Makmur, Fitri Jamaliah, Lina, dan Dewi Yuliani. Kedelapan orang ini berkumpul dengan dihadiri oleh Arsyad Indradi untuk membicarakan pembentukan KSI Cabang Kertak Hanyar. Dalam pembicaraan itu disepakati bahwa KSI Cabang Kertak Hanyar dibentuk dan disaksikan oleh Arsyad Indradi langsung. Adapun kepengurusan KSI Cabang Kertak Hanyar, yakni selaku pendiri adalah Abdul Karim Amar; ketuanya tidak lain ialah Arya Patrajaya dengan wakil ketuanya Makmur; Sekretaris dijabat oleh Fitri Jamaliah dengan wakil sekretarisnya penulis sendiri; Bendahara dipercayakan kepada Yuliati Puspita Sari; anggota-anggotanya ada dua orang, Dewi Yuliani dan Lina.

Pembentukan KSI Cabang Kertak Hanyar ini dilandasi semangat untuk menghidupkan kembali alam sastra sekaligus mencerdaskan kehidupan masyarakat Kertak Hanyar terutama generasi mudanya dalam bidang kesastraan. Semangat ini bukan besifat kedaerahan sebatas Kertak Hanyar, tetapi juga mengarah kepada cita-cita nasional, yakni membumikan sastra di Kertak Hanyar sebagai bagian jati diri bangsa dan juga mengusahakan pencerdasan masyarakat Kertak Hanyar di bidang keastraan sebagai bagian rakyat Indonesia. Hal terakhir ini sejalan dengan alenia keempat pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia dan pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan.”

Dalam pembentukan KSI Cabang Kertak Hanyar pada tanggal 31 Agustus 2008 dibicarakan beberapa hal penting menyangkut pergerakan ke depan komunitas ini. Beberapa hal itu adalah kedudukan, visi, misi, dan program kerja KSI Cabang Kertak Hanyar. Kedudukan KSI Cabang Kertak Hanyar adalah sebagai wadah berkumpulnya para sastrawan, pencinta, penggiat, dan masyarakat penikmat sastra, berada di bawah KSI Pusat di Jakarta.

KSI Cabang Kertak Hanyar memiliki visi yaitu terwujudnya KSI Cabang Kertak Hanyar sebagai wadah berkarya sastra dan pusat informasi serta pelayanan di bidang kesastraan di Kertak Hanyar dalam upaya menjadikan sastra sebagai wahana untuk bekerja sama dan sebagai perekat dalam membangun kehidupan harmonis dengan rasa solidaritas dan kesetaraan dalam masyarakat Kertak Hanyar yang majemuk.

Untuk mencapai visi tersebut, KSI Cabang Kertak Hanyar memiliki misi, yakni mengumpulkan dan menghimpun karya-karya sastra, meningkatkan mutu sastra, memberikan pelayanan kepada masyarakat, mengembangkan mutu para pengurus, meningkatkan kerja sama, dan pemasyarakatan sastra.

Adapun program kerja yang telah disusun dalam pembentukan KSI Cabang Kertak Hanyar ada lima buah. Kelima buah program kerja itu, yakni mengumpulkan dan menghimpun karya sastra dalam bentuk buku cetak, penyelengaraan lokakarya (workshop) di SMA yang ada dalam ruang lingkup Kertak Hanyar sebagai bentuk peningkatan mutu sastra, memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk buku bacaan, membuat laman (website) KSI Cabang Kertak Hanyar sebagai bentuk pemasyarakatan sastra, dan menciptakan kerja sama dengan pihak-pihak yang dianggap perlu untuk memudahkan KSI Cabang Kertak Hanyar mencapai visi tersebut di atas.

Untuk pemasyarakatan sastra, KSI Cabang Kertak Hanyar saat ini telah memiliki laman di www.ksi-kertakhanyar.co.cc. Dengan laman ini, KSI Cabang Kertak Hanyar dapat memasyarakatkan sastra bukan hanya sebatas di Kecamatan Kertak Hanyar, tetapi juga bagi masyarakat secara luas dan global. Demikianlah penulis memberikan sekilas gambaran tentang ide awal dan hal-hal dalam pembentukan KSI Cabang Kertak Hanyar yang telah berdiri pada tanggal 31 Agustus 2008. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.



Senin, 24 Maret 2008

ARTIKEL 5 MAHMUD JAUHARI ALI


Memanfaatkan Website untuk Kemajuan Dunia Sastra

Mahmud Jauhari Ali
RADAR BANJARMASIN


Kini internet telah digunakan dan dinikmati oleh orang di berbagai penjuru tanah air Indonesia untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Berbagai kepentingan tersebut dapat kita kelompokkan menjadi dua kelompok besar, yakni kepentingan untuk hal-hal positif dan kepentingan untuk hal-hal negatif. Kita sebaiknya menggunakan internet untuk hal-hal yang positif dan bukannya untuk hal-hal negatif.
Beragam fasilitas tersedia di internet, yakni mulai dari fasilitas E-mail untuk dapat saling mengirimkan pesan dari seseorang kepada orang lain hingga fasilitas membuat website untuk memublikasikan berbagai hal kepada orang lain. Semuanya itu memungkinkan kita untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat dunia secara mudah. Dewasa ini di Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan sudah banyak orang yang membuat website, baik website untuk dunia kerja maupun website pribadi yang dikenal dengan sebutan blog.
Blog atau website pribadi saat ini sudah sangat banyak dibuat dan dimanfaatkan oleh orang di Indonesia. Bahkan dengan banyaknya blog tersebut, di Indonesia terdapat banyak pula komunitas blogger, salah satunya adalah Komunitas Blogger Kalimantan Selatan. Keberadaan Komunitas Blogger Kalimantan Selatan yang bernama Kayuh-Baimbai menjadi sebuah indikator bahwa di Kalimantan Selatan terdapat banyak blog pribadi dengan berbagai isi. Hal ini dapat kita maklumi karena blog memungkinkan kita untuk memublikasikan berbagai bentuk yang ingin kita publikasikan di depan khalayak ramai. Bentuk-bentuk itu seperti artikel, esai, puisi, cerpen, teori sastra, foto dan juga video. Dengan adanya blog, kita dengan mudah mengekspresikan hal-hal yang menjadi ungkapan jiwa kita kepada masyarakat dunia. Dalam hal ini sebaiknnya kita memanfaatkan blog untuk memublikasikan hal-hal yang positif seperti memublikasikan artikel dan esai.
Dalam kaitannya dengan dunia sastra di Kalimantan Selatan dan blog, kita dapat memublikasikan segala hal-hal yang berkaitan dengan sastra di Kalimantan Selatan, yakni teori sastra, cipta sastra hingga kritik sastra. Pemublikasian seperti itu akan dapat memajukan dunia sastra di Kalimantan Selatan. Mengapa demikian? Karena dengan pemublikasian tersebut, masyarakat Kalsel akan mendapatkan pengetahuan sastra sehingga memungkinkan mereka dapat memiliki, membuat, dan menilai sastra di Kalimantan Selatan. Selain itu dengan pemublikasian tersebut, orang-orang dari luar Kalimantan Selatan akan mengetahui keberadaan dan mutu sastra di provinsi ini.
Di Kalimantan Selatan saat ini sudah ada beberapa blog yang memublikasikan dunia sastra Kalsel. Kita dapat mengunjungi blog-­blog tersebut di internet untuk mendapatkan pengetahuan sastra guna kemajuan dunia sastra di Kalimantan Selatan. Alamat-alamat blog yang memubliksikan dunia sastra itu antara lain www.penyairkalsel.blogspot.com, www.geocities.com/sainulh, www.sastrabanjar.blogspot.com, www.heriesaja.wordpress.com, www.geocities.com/daudp65, dan www.zulfaisalputera.wordpress.com.
Blog-blog tersebut telah menjadi media untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan kesastraan bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Untuk lebih memajukan dunia sastra di Kalimantan Selatan, sebenarnya perlu adanya sebuah website Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di bidang kesastraan sebagai sumber informasi sastra Kalsel dan sebagai forum sastra di provinsi ini. Pengadaan website oleh pemerintah tersebut sekaligus sebagai bentuk nyata kepedulian Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terhadap dunia sastra di provinsi ini. Dengan adanya website ini masyarakat Kalsel akan lebih mengetahui perkembangan dunia sastra Kalimantan Selatan dari waktu ke waktu. Hal ini sangat bagus guna memajukan dunia sastra yang ada di provinsi ini. Kita tentu ingin bukan sastra Kalimantan Selatan semakin maju dalam perkembangannya?
Dalam hubungannnya sebagai forum sastra, dengan website ini, kita dapat bertanya, mengutarakan masalah sastra yang ada di Kalsel, saling menyampaikan pengetahuan sastra, dan hal-hal lainnya berkenaan dengan kondisi dunia sastra di Kalimantan Selatan. Sangat menarik bukan? Dalam hal ini, para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan masyarakat luas lainnya dapat bertukar pikiran seputar dunia sastra di provinsi ini. Dengan demikian, dunia sastra Kalsel akan lebih maju.
Berdasarkan manfaat yang dapat kita peroleh dari adanya website pemerintah tersebut di atas, menurut saya sangat perlu adanya pengadaan website ini. Sudah saatnya Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan kepedulian yang lebih terhadap sastra yang ada di wilayah kerja mereka, yakni Kalimantan Selatan. Mengakhiri tulisan saya yang sangat sederhana ini, marilah kita pedulikan sastra yang ada di provinsi kita tercinta ini guna kemajuannya dari waktu ke waktu! Bagaimana Menurut Anda?

Minggu, 06 Januari 2008

ARTIKEL 4 MAHMUD JAUHARI ALI


Saling Menghargai, Mengapa Tidak?


Mahmud Jauhari Ali

Pencinta Bahasa dan Sastra

Radar Banjarmasin


Saya masih teringat dengan kata-kata guru saya di Sekolah Dasar dulu, “Kita harus saling menghargai satu sama lain!”, kalimat itu masih saja mengiang di telinga saya sampai saat ini, walaupun sudah sangat lama. Kita memang harus menghargai orang lain jika kita ingin dihargai pula oleh orang-orang di sekeliling kita. Jadi, kata-kata guru saya tadi adalah benar. Teringat dengan masa lalu saya itu membuat saya berpikir soal harga-menghargai antara sastrawan dan pemerintah di provinsi ini. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari sejumlah tulisan dari koran ini, saya menemukan adanya ketidakharmonisan antara sastrawan dengan pemerintah dalam hal harga-menghargai ini. Salah satu pihak pemerintah yang disebutkan dalam koran ini adalah Balai Bahasa Banjarmasin. Jujur, saya bukan salah seorang dari pihak instansi pemerintah yang satu ini. Akan tetapi, saya memiliki banyak teman di Balai Bahasa tersebut. Bahkan dapat dikatakan semua staf di Balai Bahasa Banjarmasin adalah teman saya. Walaupun demikian, bukan hanya pihak Balai Bahasa itu saja teman-teman saya, kita semua bangsa Indonesia adalah bersaudara. Benar?
Pada intinya saya ingin pihak sastrawan dan Balai Bahasa Banjarmasin saling menghargai satu sama lainnya. Setuju? Balai Bahasa Banjarmasin hanyalah sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Pusat Bahasa. Ada 22 UPT yang dimiliki Pusat Bahasa. Di Kalimantan ada empat, yakni Balai Bahasa Banjarmasin, Balai Bahasa Pontianak, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, dan Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Sebagai sebuah UPT, semua arah kebijakan Balai Bahasa Banjarmasin harus sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan oleh Pusat Bahasa yang berada di Jakarta. Tepatnya, di Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur. Maaf! Bukannya saya ingin mempromosikan Balai-Balai di ligkungan Pusat Bahasa, tetapi hanya ingin memberikan sedikit penjelasan seputar Balai Bahasa Banjarmasin.
Untuk menghubungkan antara masalah yang sedang ada dalam dunia sastra di provinsi ini dengan kebijakan Balai Bahasa Banjarmasin, kita perlu mengetahui seputar Balai Bahasa yang satu ini. Karena itulah, penjelasan sedikit di atas tadi saya rasa perlu. Sepengetahuan saya, dalam kebijakan-kebijakan yang ada di Balai-Balai Bahasa yang ada di pulau ini memang tidak ada program pendanaan untuk honorarium hasil sastra para sastrawan yang dimuat di media massa. Akan tetapi, perlu diingat bahwa selama ini Balai-Balai Bahasa telah memberikan honorarium kepada sejumlah sastrawan yang bekerja sama dengan pihak Balai Bahasa dengan prinsip saling menghargai. Misalnya, honorarium diberikan oleh Balai Bahasa Banjarmasin kepada sastrawan yang menjadi juri dalam lomba Baca Puisi yang sering diselenggarakan Balai Bahasa ini. Bisa juga diberikan kepada sastrawan yang bertindak sebagai pembengkel sastra dalam kegiatan Bengkel Sastra yang juga sering diselenggarakan pihak Balai Bahasa. Sebut saja sastrawan yang akrab dengan Balai Bahasa Banjarmasin adalah Arsyad Indradi dan Ali Syamsudin Arsyi.
Honorariumnya lumayan besar sebagai bentuk penghargaan terhadap sastrawan yang menghargai ajakan pihak Balai Bahasa menjadi juri atau pembengkel sastra tersebut. Menanggapi masalah honorarium untuk sastrawan yang hasil sastranya dimuat di media massa, saya rasa bukanlah kapasitas saya untuk menjawab pertanyaan apakah diberikan atau tidak. Akan tetapi, saya masih meyarankan perlu adanya diskusi langsung (tatap muka) antara pihak sastrawan yang menginginkan honorium tersebut dengan pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Diskusi itu menurut saya perlu karena tanpa itu masalah yang sedang ada di dunia sastra provinsi ini tidak akan teratasi. Diskusi merupakan usaha mencari solusi yang baik dalam mengatasi segala masalah, termasuk masalah yang sedang saya bahas ini. Saya yakin pihak Balai Bahasa Banjarmasin akan mau membuka diri terhadap masalah kesastraan di lingkup wilayah kerja mereka. Insya Allah diskusi itu akan membawa perubahan ke arah kebaikan bagi kita bersama. Amin!
Selain diskusi itu, ada beberapa hal lain yang ingin saya sampaikan berikut ini berkenaan dengan masalah honorarium selama diskusi tersebut belum dapat dilaksanakan. Pertama, sekadar saran, bukan menggurui siapa pun, menurut saya sementara diskusi itu belum dilaksanakan, pihak Balai Bahasa Banjarmasin dapat membuat sejumlah antologi puisi para penyair atau kumpulan cerpen para cepenis di Kalimantan Selatan pada tahun 2008, sebagai kerja tim. Para penyair dan cerpenis yang hasil puisi atau cerpennya dimuat di dalam kumpulan-kumpulan tersebut diberikan imbalan sebagai bentuk pengahargaan. Ingat, ini hanya saran! Kedua, saran saya lainnya adalah pihak Balai Bahasa Banjarmasin menyelenggarakan sayembara penulisan cerpen, puisi, atau pun naskah drama bagi masyarakat umum secara rutin setiap tahunnya. Dalam arti, siapa saja boleh ikut dalam sayembara tersebut termasuk para sastrawan di Kalimantan Selatan. Dengan demikian, sastrawan yang menang akan mendapatkan penghargaan yang pantas dari Balai Bahasa Banjarmasin. Ini juga hanya saran!
Dalam hal pertama dan kedua tadi menurut saya para sastrawan juga harus menghargai pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Menurut saya bentuk penghargaan para sastrawan kepada Balai Bahasa pada hal yang pertama adalah sastrawan harus mau menyerahkan sendiri puisi atau pun cerpen mereka masing-masing kepada pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Dengan demikian, pihak Balai Bahasa Banjarmasin tidak perlu mendatangi para sastrawan dari pintu ke pintu. Bentuk penghargaan dalam hal yang kedua adalah para sastrawan harus semaksimal mungkin berkarya dalam megikuti sayembara tersebut.
Ketiga, saran saya adalah para sastrawan harus meningkatkan produktivitas dalam pembuatan hasil sastra dari segi kuantitas dan kualitasnya sehingga kemungkinan diterbitkannya hasil sastra mereka di media massa termasuk di koran ini semakin besar pula. Dengan demikian, insya Allah honorium yang didapat pun akan semakin besar pula. Sebagai simpulan dari secuil ungkapan jiwa saya ini, saya menginginkan pihak sastrawan dan pihak pemerintah, termasuk Balai Bahasa Banjarmasin dalam hal ini selalu menempatkan harga-menghargai di atas kepintingan pribadi atau pun golongan. Setuju? Bagaimana menurut Anda?

Sabtu, 05 Januari 2008

ARTIKEL 3 MAHMUD JAUHARI ALI


Membina Keakraban Balai Bahasa Banjarmasin dan Sastrawan Kalsel

Mahmud Jauhari Ali

RADAR BANJARMASIN

Beberapa kali saya membaca sejumlah tulisan yang dimuat di salah satu surat kabar lokal di Kalimantan Selatan tentang sastra dan kehidupannya. Tulisan-tulisan tersebut membuat hati saya terenyuh dan otak saya mulai berpikir soal kehidupan sastra di Kalimantan Selatan. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, apalagi menyudutkan pihak tertentu. Dalam tulisan ini saya hanya mencoba mengakrabkan jiwa para sastrawan Kalsel dengan Balai Bahasa Banjarmasin. Sebenarnya tulisan ini tidak perlu muncul jika rekan-rekan saya di Balai Bahasa Banjarmasin bersedia menulis sepatah dua patah kata mengenai masalah kehidupan sastra di provinsi ini yang sedang diusung oleh para sastrawan Kalimantan Selatan saat ini. Saya sudah menunggu beberapa waktu munculnya tulisan mereka menanggapi unek-unek sebagian sastrawan Kalsel dalam tulisan mereka tersebut. Akan tetapi, sampai detik ini belum juga ada tulisan yang muncul. Entah saya yang kurang membaca media masa ataukah memang benar kata-kata saya dalam kalimat terakhir tadi. Hal itu terjadi mungkin mereka tidak sempat menulis karena pekerjaan mereka sangat banyak di Balai Bahasa Banjarmasin berkenaan dengan bahasa dan sastra. Semoga tulisan saya ini tidak salah isi dan semoga pula rekan-rekan di Balai Bahasa Banjarmasin tidak merasa dilangkahi oleh saya.
Baiklah saya mulai saja mengungkapkan pikiran saya seputar masalah sastra dan kehidupannya di Kalimanatan Selatan yang kita cintai ini. Tidak kurang dan tidak lebih isi tulisan yang saya baca beberapa waktu yang lalu berkaitan dengan sastra di Kalimantan Selatan. Tentunya dalam hal ini selalu melibatkan sastrawan sebagai pelaku aktif dunia sastra. Hidup matinya sastra salah satunya bergantung pada mereka. Oleh karena itu, wajar saja mereka “berteriak” dengan lantangnya mengenai hal yang menjadi bagian penting hidup mereka, yakni hidupkan sastra! Kehidupan sastra selain bergantung pada sastrawan, juga memerlukan apresiasi bahkan lebih daripada itu dari berbagai pihak, salah satunya adalah lembaga yang berkecimpung di dunia sastra. Sebut saja Balai Bahasa Banjarmasin yang memiliki tugas pokok mengadakan pembinaan dan penelitian di bidang bahasa dan sastra, khususnya bahasa dan sastra di Kalimantan Selatan. Sudah cukup banyak pembinaan-pembinaan dan penelitia-penelitan di bidang bahasa dan sastra yang telah diselesaikan oleh pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Misalnya saja penyuluhan bahasa dan bengkel sastra, keduanya merupakan tindakan nyata pembinaan di bidang bahasa dan sastra yang diperuntukkan bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Hasil-hasil penelitian seperti penelitian Pemetaan dan Kekerabatan Bahasa-Bahasa di Kalimantan Selatan dan penelitian Mantra Banjar juga merupakan wujud nyata kerja pihak Balai Bahasa Banjarmasin di bidang kebahasaan dan kesastraan. Intinya, pihak Balai Bahasa Banjarmasin telah banyak memberikan kontribusi bagi Provinsi Kalimantan Selatan, baik di bidang kebahasaan maupun kesastraan.
Sayangnya, pihak luar kurang mengetahui hal itu sehingga Balai Bahasa Banjarmasin dianggap oleh beberapa sastrawan tidak memiliki kepedulian terhadap kehidupan sastra di provinsi ini. Hal ini ternyata merembet pada masalah honorium untuk sastrawan yang cipta sastranya dimuat di surat kabar. Menutrut saya sastarwan dalam hal ini tidak salah. Wajar saja jika sebuah tulisan dihargai karena sebuah tulisan tidak akan muncul dengan sendirinya, melainkan dengan jerih payah penulisnya.
Menurut saya, masalah ini harus segera dijernihkan melalui diskusi antara pihak sastrawan Kalimantan Selatan dan pihak Balai Bahasa Bajarmasin. Harus ada pembicaraaan langsung antara kedua belah pihak, misalnya para sastrawan dan pihak Balai Bahasa Banjarmasin berinisiatif membicarakannya dengan baik di Aula Balai Bahasa Banjarmasin yang luas itu. Di sana harus dibicarakan secara tuntas masalah kehidupan sastra di Kalimatan Selatan, termasuk masalah honorium sastrawan yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan saat ini. Dengan pembicaraan dalam diskusi tersebut diharapkan hubungan sastrawan dan pihak Balai Bahasa Banjarmasin semakin akrab dan membuahkan kerja sama yang baik demi kehidupan sastra di banua kita.

ARTIKEL 2 MAHMUD JAUHARI ALI


Mantra Banjar: Bukti Orang Banjar Mahir Bersastra Sejak Dahulu


Mahmud Jauhari Ali

SPIRIT KALSEL


Pur sinupur/ Bapupur di piring karang/ Bismillah aku bapupur/ Manyambut cahaya si bulan tarang/ Pur sinupur/ Kaladi tampuyangan/ Bismillah aku bapupur/ Banyak urang karindangan…. Demikianlah penggalan salah satu mantra Banjar yang sudah ada sejak zaman dahulu. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa orang Banjar sejak dahulu hingga sekarang menggunakan mantra Banjar untuk berbagai keperluan, seperti untuk mempermudah melahirkan, menjadikan tubuh kebal terhadap senjata tajam, dan untuk membuat anak berhenti menangis.
Di samping mengandung kebergunaan bagi orang Banjar seperti yang dipaparkan di atas, mantra Banjar yang telah berkembang dalam masyarakat Banjar hingga sekarang memiliki fungsi sebagai pengungkap tata nilai sosial budaya. Bahkan lewat mantra Banjar, kita dapat menggali nilai budaya yang lebih mendalam yaitu kepercayaan atau religi. Kita akan mengetahui religi yang ada atau pernah ada dalam masyarakat Banjar melalui mantra Banjar. Dalam mantra Banjar terdapat pengaruh religi berupa unsur Kaharingan, unsur Melayu dan Jawa Budha, dan unsur Islam. Berdasarkan pengaruh-pengaruh relig ini, kita akan mengetahui bahwa dalam masyarakat Banjar, baik Banjar Kuala, Banjar Hulu, maupun Banjar Batang Banyu ada atau pernah ada ketiga usur religi tersebut, yakni Kaharingan, Budha, dan Islam.
Sebagai sebuah bentuk sastra lisan yang bersifat magis, mantra Banjar biasanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Akan tetapi, hal ini tidak menutup kemungkinan orang biasa juga memunyai atau menguasai mantra-mantra tertentu untuk keperluan sehari-hari. Terlepas dari masalah religi dan unsur magis tersebut, mantra Banjar merupakan salah satu jenis sastra lisan milik orang Banjar. Mantra Banjar termasuk ke dalam jenis puisi lama orang Banjar. Puisi lama yang satu ini diciptakan dan dilafalkan oleh orang Banjar sejak dahulu untuk berbagai keperluan sehari-hari. Penciptaan dan pelafalan mantra Banjar tersebut mengandung arti bahwa orang Banjar sejak dahulu sudah mahir berpuisi, yakni dalam hal penciptaan dan pelafalan puisi lama berupa mantra Banjar. Dapat pula kita katakan bahwa mantra Banjar menjadi bukti sejak dahulu orang Banjar sudah mahir bersastra, yakni pada jenis puisi lama.
Mantra Banjar harus kita lestarikan karena selain berfungsi sebagai pengungkap tata nilai sosial budaya Banjar dan bermanfaat dalam penggalian nilai-nilai religi masyarakat Banjar, melalui mantra Banjar kita dapat membuktikan bahwa orang Banjar mahir bersastra sejak dahulu. Pelestarian mantra Banjar dapat dilakukan dengan mendokumentasikan mantra-mantra Banjar dalam bentuk buku yang mudah dibaca oleh masyarakat Banjar khususnya dan masyarakat di luar etnik Banjar umumnya. Satu hal yang juga perlu kita ingat adalah mantra Banjar harus kita jaga jangan sampai diakui oleh pihak-pihak lain sebagai sastra milik mereka.
Mantra Banjar juga mengandung arti bahwa orang Banjar sejak dahulu memiliki kebiasaan berpuisi (menciptakan dan melafalkan puisi lama yang disebut mantra Banjar). Bentuk pelestarian yang lebih hidup dan sesuai perkembangan zaman pada masa sekarang ini berkaitan dengan mantra Banjar adalah melestarikan kebiasaan berpuisi seperti yang dilakukan orang Banjar zaman dahulu. Bentuk konkrit pelestarian yang lebih hidup ini adalah menciptakan puisi-puisi pada zaman sekarang. Alhamdulillah bentuk konkrit pelestarian yang lebih hidup ini sudah banyak dilakukan oleh orang Banjar zaman sekarang. Bahkan orang Banjar sekarang sudah ada yang memasukkan puisi-puisi ciptaan mereka dalam laman atau web internet pribadi, sebut saja laman atau web milik penyair terkenal Kalsel yang bernama M. Arsyad Indradi, S.Pd., yakni www.sastrabanjar.blogspot.com dan www.penyair-kalsel.blogspot.com.